Latest News
Tampilkan postingan dengan label IndonesiaKu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IndonesiaKu. Tampilkan semua postingan

Kemerdekaan Berbuah Kemelaratan

Posted by BARRIS Blog's on Minggu, 06 Desember 2009 , under | komentar (0)



 

Ustadz Muhammad Thalib
(RM Edisi 12 Th I Ramadhan 1428/September 2007 M I Hal. 12-13)


Kemerdekaan Indonesia telah di perjuangkan oleh para pahlawan sejak ratusan tahun sebelum di cetuskannya proklamasi 17 Agustus 1945. Banyak pengorbanan rakyat dan para pemimpinnya baik harta maupun nyawa. Pengorbanan yang begitu besar tidak menyurutkan semangat dan keberanian menghadapi terror dan kekejaman penjajah Belanda, bahkan mengorbankan semangat api perjuangan.

Rakyat memang menyaksikan dengan mata kepala sendiri penderitaan dan kesengsaraan, kemelaratan dan kenestapaan di bawah cengkraman dan penjajah Belanda. Pengalaman pahit di masa lalu, mendorong rakyat bersemangat membebaskan diri dari belenggu kehidupan yang penuh kemelaratan dan kenestapaan, kemudian hal ini dijadikan modal oleh para pemimpin bangsa untuk membakar semangat rakyat berjuang dengan harta dan jiwa meraih kemerdekaan.

Memasuki awal abad 19 bermunculan tokoh-tokoh sebagai propagandis, mengorbankan semangat meraih kemerdekaan. Bahkan, Soekarno dalam berbagai pidatonya selalu menggunakan semboyan politis dan retorika manis, bahwa jembatan emas terbentang di balik kemerdekaan Indonesia. Ilusi dan mimpi rakyat yang tertindas dibangkitkan begitu rupa dengan slogan-slogan yang mempesona, bahwa di dalam Indonesia merdeka rakyat akan menemukan kehidupan gemah ripah loh jinawi, toto tenterem kertoraharjo, makmur, aman dan sentausa.

Di bawah slogan kemerdekaan, rakyat akar rumput tidak pernah bertanya kritis, dengan cara bagaimana kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyat kelak akan tercapai. Apakah setelah merdeka masih diperlukan pengorbanan rakyat, ataukah rakyat tinggal berpangku tangan dan menanti mukjizat dari langit sebagaimana dipropagandakan para pemimpin pejuang kemerdekaan? Kemudian,  kemerdekaan dengan serta merta menghadiahkan kemakmuran kesentausaan, keamanan dan kedamaian secara instant seperti ceritera lampu Aladin, bim salabim.

Kemerdekaan, ke 62 tahun, yang kini tengah dirayakan, ternyata hanya menorehkan kepahitan dan kegetiran bagi mayoritas rakyat negeri ini. Kemiskinan semakin membengkak, pengangguran semakin menumpuk, pendidikan bagi rakyat kecil semakin tidak terjangkau dan jurang kekayaan dengan kemiskinan semakin menganga. Mengapa semua itu terjadi? Siapa yang harus dipersalahkan? Apa langkah yang selama ini diambil sehingga hanya menyisakan kesengsaraan dan kemelaratan yang lebih parah bagi masyarakat Indonesia. Dan kapan kondisi yang serba pedih, perih dan menyayat hati ini berakhir? Siapa gerangan yang mampu mengakhirinya, dan dengan cara apa semuanya ini dapat diakhiri?

Sudah dapat dipastikan tidak ada satu pihak pun yang mau bertanggung jawab dan mengakui secara jentelmen atas derita dan nestapa rakyat Indonesia yang telah merdeka 62 tahun berkaitan dengan salah urus negeri ini. Yang jelas selama masa 62 tahun para pemimpin Indonesia dengan semangat berapai-api telah menyingkirkan Islam dan Syari’atnya dari gelanggang pengelolaan Negara dan masyarakat. Serta membusungkan dada dengan pongah menyatakan bahwa doktrin pemisahan agama dari Negara adalah obat mujarab yang akan mengantarkan Indonesia kepada kejayaan, kemakmuran dan kesentausaan.

Tanpa malu dan tahu diri justru golongan nasionalis sekuler dan kaum sekuler yang berkedok Islam terus menerus berbohong kepada rakyat bahwa Negara-negara maju berhasil mendapatkan kemakmurannya seperti sekarang memerlukan waktu ratusan tahun sedangkan kita baru 62 tahun. Maka wajar di dalam Negara Indonesia merdeka ini rakyat harus bersabar menjadi manusia melarat. Inilah bukti bahwa kaum sekuler baik nasionalis maupun yang berkedok Islam telah mencundangi rakyat dan menjual rakyat untuk membangun mental oportunis mereka.

Mengapa hanya rakyat yang diminta bersabar menderita kemelaratan, sementara mereka menikmati fasilitas Negara dengan penuh kemewahan dan berlebihan? Disinilah, sebenarnya kunci penyebab dari kemerdekaan Indonesia membuahkan kemelaratan, karena pemimpinnya adalah manusia bermoral bejat, bermental serakah dan berjiwa oportunis mengejar kesenangan nafsu. Selama pemimpin Indonesia bermental semacam ini, maka tidak ada harapan mayoritas rakyat dapat dientaskan dari kemelaratannya. Hal ini sesuai dengan firman Alloh ‘Azza wa jalla :
   
16. dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

Maka jalan keluar yang harus menjadi pilihan bagi rakyat Indonesia adalah membersihkan Negara dan pemerintahan dari kaum oportunis, penjual rakyat, penjilat kaki tangan kepentingan asing. Untuk diganti dengan orang-orang yang memiliki jiwa taqwa kepada Alloh, cinta kepada rakyat, hidup menjauhi kemewahan dan mengajak rakyat untuk menegakan hokum Alloh di muka bumi. Inilah satu-satunya jalan untuk membebaskan rakyat Indonesia dari ketatnya pakaian, kelaparan, serta himpitan hidup sengsara.

96. Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Sebagai upaya konstruktif memperbaiki kepemimpinan Indonesia, agar mendapatkan figur-figur yang bertanggung jawab baik kepada Alloh maupun kepada rakyat, telah tersedia jalan damai bagi rakyat Indonesia. Bahkan mahkamah konstitusi menetapkan, rakyat boleh memilih pemimpinnya dari kalangan independen. Dalam kaitan ini para pemimpin gerakan Islam di Indonesia selayaknya tampil untuk berkiprah mengetaskan rakyat Indonesia dari kemelaratan dan kenestapaan yang telah menggelayuti negeri ini 400 tahun lebih, sejak datangnya penjajah Belanda hingga kini.



Budaya konsumtif dan mental konsumtif

Posted by BARRIS Blog's on Jumat, 04 Desember 2009 , under | komentar (0)




Pernah jalan-jalan ke bandung??? Lima tahun terakhir yang berubah drastis adalah banyaknya mall kelas kakap yang terlahir, mulai dari Carrefour, hypermart, giant, BEC, BTM, Be Mall, Lucky Square, Paskal Square, dan banyak yang lainnya. Belum lagi pertumbuhan FO alias Factory Outlet yang semakin berjamuran, semakin mengentalkan image dan menjadikan ikon kota bandung sebagai KOTA BELANJA. Setiap sabtu dan minggu mobil berplat B banyak berkeliaran di seputaran bandung, untuk memenuhi kebutuhan hidup mulai makanan halal hingga tidak halal, dari yang tempat terang hingga yang remang-remang. Perputaran uang bisa pesat, perputaran barang demikian juga, hal ini meningkatkan konsumtivitas terhadap produk produk barang dan jasa yang ditawarkan. KOTA belanja sebenarnya bisa identik dengan budaya konsumtif yang semakin meningkat hari demi hari di masyarakat Bandung dan sekitarnya. Jangan heran, leasing alias agen kredit juga berkembang dengan pesat, lihatlah antrian di salah satu adira finance, salahsatu leasing yang terbesar, antrian yang bayar sampai ratusan orang bahkan bisa seribu lebih. Lembaga finance sepertinya menemukan lahan basah. Akibatnya Debt Collector menjadi profesi masih dan akan selalu prospek walau di masa krisis dan kritis sekarang ini.
Memang apa masalahnya?, kebiasaan melihat iklan, diskon, produk obral, cicilan bunga 0%, akan melahirkan keinginan terus menerus untuk membeli dan memiliki, bahkan memaksakan untuk membeli. Sehingga kebiasaan ini membentuk semangat mencari uang lebih untuk bisa berbelanja untuk memenuhi di luar kebutuhan pokok. Lebih gawat lagi kalau memiliki sesuatu bermerk menjadi ukuran status sosial. Perkembangan barang beserta teknologinya kerap menjadi obrolan sehari-hari. Kebiasaan ini bisa melahirkan budaya konsumtif, sekaligus membunuh budaya produktif.

Film indonesia bangkit, mulai dari AAC (ayat ayat cinta), Naga Bonar jadi 2, Laskar Pelangi, mampu menjadi magnet penarik besi yang ada dalam jiwa masyarakat indonesia, terkhusus di kota-kota besar. Masa premiere (pemutaran perdana) film film tersebut membludak, seakan embun itu akan menjawab kehausan-kehausan dari kejenuhan masalah-masalah yang membanjiri pelosok negeri ini. Jumlah penontonnya pun sangat menakjubkan lebih dari dua juta penonton, film AAC dan Laskar Pelangi mampu memecahkan rekor film-film masa jadul (jaman dulu) seperti trio warkop, cut nyak dien, dalam hal menarik penonton. Budaya konsumtif ternyata tidak hanya melanda barang-barang tetapi juga melanda dunia hiburan. Mebludaknya DVD bajakan, yang menawarkan film baru, juga tidak lepas dari budaya konsumtif terhadap hiburan, akibatnya dialog keseharian juga tidak laepas dari film apa yang baru, sudahnonton atau belum?. Sehingga pikirannya semakin terbiasa dan mungkin butuh diisi dari eksternal dirinya dengan hiburan-hiburan dan semakin jauhlah dari dunia nyata, maka memandulkan untuk berpikir kreatif produktif di alam nyata.

Buku apa yang banyak diserbu remaja?, tampaknya kalau sering standby atau melihat buku di toko buku bisa melihat perputaran novel-novel remaja, yang demikian cepatnya. Atau lihat deretan buku best seller isinya seputar percintaan, perselingkuhan dan solusi-solusi praktis tentang aspek kehidupan. Ini pun menunjukkan tingkat konsumtivitas melanda bacaan bacaan, akibatnya kaya pengetahuannya dengan pendapat orang , tetapi miskin dalam melahirkan pendapatnya sendiri.

Hal di atas hanyalah contoh, sebetulnya jauh lebih banyak budaya budaya konsumtif lagi kalu digali lagi.

Akankah bangsa ini menjadi bangsa pemakai produk kapan akan menjadi produsen, atau lebih senang menjadi penonton di pinggir lapangan ketimbang bergerak menjadi pemain, atau menjadi pengamat yang lebih senang di luar permasalahan memberikan comment ketimbang bergerak di dalam.

Ada asumsi, menulis adalah budaya produktif, membaca adalam budaya konsumtif. Tak bisa menulis kalau jarang membaca. Sikap konsumtif dalam membaca seharusnya bisa menjadi modal untuk membangkitkan produksi menulis. Dengan menulis menjadikan terbiasa melahirkan berbagai ide, gagasan, pendapat, menganggah, sehingga terbiasa dalam budaya berdiskusi dan berpikir alternatif. Tapi kalau melihat kembali trend yang ada, bacaan-bacaan easy going, seperti harian olahraga, infotainment, atau ulasan elektronik, justeru yang kerap membanjiri dunia bacaan masyarakat, yang secara langsung membanjiri alam pikirannya, lama kelamaan menjadi dunia pola pikirnya. Ini tidak lepas dari pola konsumtif dalam berbagai aspek melahirkan budaya konsumtif di berbagai aspek pula. Banyak bacaan yang dibaca hanya ending di pengetahuan, kurang bernilai bagi pemaknaan hidupnya.

Budaya konsumtif akan melahirkan generasi penonton dan pengamat, bukan generasi produktif. Budaya penonton, lihat di metro 10, indonesia memiliki rating 2 untuk masalah lamanya menonton TV. Dengan budaya seperti ini, bukan budaya sosok yang pelopor yang akan lahir, justeru sosok pengikut dari pembuat trend.

Budaya konsumtif membentuk karakter jiwa yang berkeinginan, tapi kurang membentuk karakter yang bercita-cita. Keinginan besar menjadi superman, tapi tidak ada upaya mencapainya. Manusia tanpa cita-cita sama dengan tidak ada.

Mengapa sosok Cokroaminoto, sang pelopor, sering juga disebut raksasa dalam dunia pemikiran dan raksasa dalam aplikasi pergerakan nasional, sulit lahir lagi di negeri ini? Tampaknya akan sulit lahir sosok ideologis kalau alam pembicaraannya hanya seputar hp, laptop, mobil, automotif. Dengan pikiran dipenuhi infotainment, sepakbola dan golongannya, hanya akan lahir generasi penonton dan pengamat.

Kenapa sulit mencari sosok yang mampu berkiprah besar seperti tokoh-tokoh sejarah, tampaknya ada yang berupaya memadamkannya dengan melahirkan budaya konsumtif.

Mengubah mindset konsumtif menjadi produktif menjadi awal yang bisa dilakukan supaya bisa berharap lahir generasi yang penuh harapan. Setuju??

Bos Rokok Super Kaya

Posted by BARRIS Blog's on , under | komentar (0)




Para ahli hisap –sebutan bagi para perokok- adalah penyumbang terbesar bagi kerajaan bisnis manusia super kaya di Indonesia. Daftar 150 orang terkaya yang diliris majalah Globe Asia edisi Agustus 2007, menyebutkan produsen racun nikotin, yang bos tembakau dan perusahaan rokok adalah pewaris Namrud Indonesia.
Raja tembakau Indonesia, Budi Hartono (bos Djarum) dan Rachman Halim (bos Gudang Garam), menempati posisi pertama dan kedua, manusia terkaya. Dalam daftar yang dirilis 30 Juli 2007, Budi Hartono (66), meraih gelar orang terkaya di Indonesia karena memiliki kekayaan USD 4,2 Miliar (Rp 37, 8 Triliun). Selain menambang uang dari berjualan rokok, kantong pengusaha yang merintis usaha dari kudus, Jawa Tengah itu, semakin tebal dengan setoran keuntungan dari BCA, bank ritel terbesar terbesar, dan berbagai aset property.
Sedangkan Rachman Halim (60), bos Gudang Garam termasuk orang yang tak pernah absen dalam setiap daftar tentang orang terkaya di Indonesia. Untuk kelas dunia, dia berada di posisi kedua dengan kekayaan USD 3,5 miliar (Rp. 31,5 triliun).
Satu lagi pengusaha yang dibesarkan oleh bisnis rokok, Putera Sampoerna, berada di urutan kelima dengan kekayaan USD 2,2 miliar (sekitar Rp. 19,8 triliun). Selain dari penjualan saham HMSP ke PT Philip Morris Indonesia yang mencapai Rp. 18,5 triliun, pundi-pundi Putera makin menggunung dengan kesuksesannya merambah bisnis property di Rusia dan kasino di London.
Executive Chairman of Globe Asia, Rizal Ramli menyatakan, jika digabungkan kekayaan tiga raja tembakau tersebut mencapai USD 10 miliar (Rp. 90 triliun). Jumlah itu hamper 25 persen dari total kekayaan yang dimiliki 150 orang terkaya Indonesia yang masuk daftar dengan nilai USD 46,6 miliar (Rp. 419,4 triliun).
Beberapa pengusaha kawakan yang masih bertahan adalah Soedono Salim (92) menempati peringkat keempat dengan kekayaan USD 2,8 miliar (Rp. 25,2 triliun). Eka Tjipta, bos Group Sinar Mas, memiliki harta senilai USD 3,1 miliar (Rp. 27,9 triliun) dan berada di posisi ketiga.
Sukanto Tanoto dari Raja Garuda Mas yang bergerak di bidang industry pulpen dan kertas serta kelapa sawit memiliki kekayaan USD 1,3 miliar (Rp. 11,7 triliun). Disusul bos Wings Group, Eddy William Katuari yang memiliki kekayaan USD 1,1 miliar dari bisnis consumer goods dan propertinya.
Sementara Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Aburizal Bakrie menempati urutan kedelapan orang terkaya se-Indonesia. Dengan kekayaan mencapai USD 1 miliar (Rp. 9 triliun). Disusul bos Medco Energy, Arifin Panigoro, USD 900 juta dan Harry Tanoesoedibyo menempati posisi kesepuluh dengan kekayaan USD 900 juta.
Tokoh lain yang masuh dalam daftar orang terkaya adalah Chaerul Tanjung, bos Para Group yang bergerak di sector perbankan dan media, dia menempati posisi kelima belas dengan kekayaan USD 565 juta. Raja Jogjakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menempati urutan ke-77 dengan kekayaan USD 140 juta.
Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga dikenal sebagai pengusaha tercatat memiliki kekayaan USD 125 juta dan menempati posisi 84, disusul Pontjo Sutowo dengan kekayaan USD 125 juta.
Rizal yang pernah menjabat menteri keuangan dan mantan menteri coordinator perekonomian itu menjelaskan, pemeringkatan yang dilakukan Globe Asia didasarkan kepemilikan saham oleh masing-masing individu, baik di perusahaan publik (yang tercatat di bursa saham) maupun yang tidak (nonpublik).
“Dari daftar ini kita juga bias tahu sector rokok dan komoditas sumber daya alam masih sangat berpotensi dalam bisnis di Indonesia,” jelas Rizal.
Memperkaya Pengusaha
Sebagaimana pernah dikutip mantan Menteri Kesehatan dr. Achmad Sujudi, mengutip WHO tahun 2004, tingkat konsumsi rokok di Indonesia menempati urutan tertinggi kelima atau termasuk lima besar dunia.
Pada tahun 2002 saja, konsumsi rokok di Indonesia ini tercatat mencapai jumlah 182 miliar batang. Sementara itu, berdasarkan data World Health Organization (WHO), urutan pertama konsumsi rokok ditempati China sebanyak 328 miliar batang, dan Rusia sebanyak 258 miliar batang.
“Berdasarkan data Susenas, lebih dari 30 persen penduduk dewasa mempunyai kebiasaan merokok,“ ujar mantan Menkes itu saat menghadiri peringatan ”hari tanpa tembakau sedunia” di Gedung Depkes, Jakarta. Menurut data, dari total populasi pria Indonesia, sebanyak 69% adalah merokok.
Artinya lebih dari separuh lelaki yang ada di Indonesia ini tiap hari memasukan bahan racun kedalam paru-parunya dan menjadi penyumbang terbesar orang superkaya Indonesia. Yang sebagian hartanya banyak dilarikan ke Negara kafir Singapura.

Pelaku Peledakan Bom Adalah Musuh Islam

Posted by BARRIS Blog's on , under , | komentar (0)





 SOLO, (PR).-
                Mantan pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia, Abu Bakar Ba’asyir mengatakan bahwa pelaku peledakan Hotel J.W. Marriott dan Ritz Carlton di Jakarta adalah musuh Islam. “Mereka yang melakukan pengeboman telah menjadikan Islam menjadi kambing hitam dari kasus tersebut,” katanya di solo, Jateng, Juma’at (17/7).
                Menurut dia, tindakan yang dilakukan musuh Islam tersebut dapat mendorong hal-hal yang memojokkan dan menekan umat Islam. “Tidak menutup kemungkinan setelah adanya kasus pledakan ini, pejuang-pejuang Islam akan ditangkap dan dituduh sebagai pelaku pengeboman,” kata Ba’asyir, seusai meminpin unjuk rasa menentang kekerasan di Xinjiang.
                Musuh Islam yang dimaksud, menurut dia. Tidak menutup kemungkinan Amerika Serikat juga ikut terlibat di dalamnya. “Tetapi tidak menutup kemungkinan juga, pengeboman tersebut dilakukan oleh iknum umat Islam yang berasal dari kelompok tertentu yang tidak puas dengan keadaan Indonesia saat ini,” katanya.
                Jika terbukti dilakukan oknum lmat Islam, menurut dia, maka hal tersebut adalah kemauan pelaku pengeboman sendiri, bukan kemauan umat Islam. “Saya menentang keras tuduhan mengenai pengeboman ini ditujukan kepada umat Islam,” katanya.
                Dia mengimbau semua pihat, termasuk pemerintah Indonesia, agar berhati-hati dalam menyikapi kasus ini,” katanya.
                Dr. Carl Ungerer, Direktur Projek Keamanan Nasional Australia, Australia Strategic Policy Institute, sebagaimana dilansir Koran Australia menduga, sekelompok anggota muda kelompok radikan Jema’ah Islamiyah (JI) berada di balik ledakan bom di Hotel J.W. Mariott dan Ritz Carlton. Mereka merupakan sekelompok anggota garis keras yang tidak setuju dengan pandangan para pemimpin JI. (Ant/dtc)***
Koran PR
Sabtu, 18 Juli 2009

Indonesia Bangkrut

Posted by BARRIS Blog's on , under | komentar (0)





"dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)".

Kenyataan historis kadang terlalu pahit untuk ditelan dan terlalu pedas untuk dirasakan. Sejarah adalah kaca benggala yang memuat berbagai fakta yang pernah terjadi pada waktu yang sudah silam. Segala hal yang telah tergores dalam kaca sejarah, tidak lagi terhapus. Orang yang tidak senang mungkin akan berusaha menyelubunginya atau melupakannya, tetapi ia tidak mampu untuk mengahapusnya. Orang dapat membuat berbagai macam tafsir, tetapi pakta sejarah yang ditafsirkan tidak akan berubah. Dari segi penafsir sejarah akan melihat wajah, itu bergantung watak, Idiologi, dan kemauan penfsir.
Kebangkitan ataupun kebangkrutan sebuah generasi suatu dinasti penguasa mewarnai rona sejarah yang sedap dan yang pedas untuk didengar. Kebanyakan yang sedap membuat orang membusungkan dada, tetapi ketika pedas berusaha untuk disembunyikan dan ditutupi. Akan tetapi fakta sejarah tak bisa diubah, tergantung selanjutnya bagaimana kita mengsikapinya haruisnya kita pandai-pandai untuk mengambil pelajaran bagi masa kini karena masa kini akan menjadi fakta sejarah dimasa depan.
”kutukan Mpu Gandring masih ada sampai sekarang?”. bahwa sebuah kekuasaan dan kejayaan suatu dinasti penguasa yang diperoleh dengan cara-cara yang tidak halal, akan menemui babak kebangkrutan yang pahit sepahit empedu. Kudeta Ken Arok yang menohok Tunggul Ametung dengan keris Mpu Gandring telah membawa kesinggasan kemewahan Singosari dengan beristrikan Ken Dedes yang cantik Jelita. Negara Ken Arok yang jaya selanjutnya menjadi bobrok oleh moralitas nafsu durjana dan syahwat politik yang membabi buta.
Habis negara Ken Arok tumbuh negara Majapahit. Kutukan Mpu Gandring meluluh lantakan Singosari-Kediri oleh Senopatinya sendiri Raden Wijaya. Selanjutnya Raden Wijaya membangun dinasti baru penguasa tanah Jawa dan bangkit menguasai nusantra oleh keturunannya Prabu Hayam Wuruk dengan mahapatih Gajah Mada.
Kekuasaan Majapahit telah diagung-agungkan oleh para Founding Father NKRI. Ceritanya dalam negara negara kertagama negara kertaharja ala Gajah Mada) karya sastrawan mpu Prapanca memberikan inspirasi bagi ide perjuangan nasionalisme. Pelaksanaan gagasan Nusantara dengan sumpah nusantara ala sumpah palapa patih Gajah Mada membawa keagungan dan kejayaan kepada negara majapahit, memberikan ketentraman dan kesejahteraan kepada rakyat. Gajah Mada adalah juru selamat dalam masa Majapahit.
Rupanya apa yang digagas M. Yamin seorang penggila sejarah kejayaan Majapahit dan Soekarno yang mengagung-agungkan gagasan nusantara patih Gajah Mada (itu sebabnya PTN diyogya beliau namai Univ. Gajah Mada, kasihan hayam Wuruk hanya jadi PTS di Jakarta), tidak melihat cerita akhir kesudahan Majapahit. Majapahit telah luluh lantah di telan bumi Sirna ing bumi, oleh kekuasaan yang baru, kekuasaan yang halal, perjuangan yang diridhoi Alloh. Sang pemenang al-Fatah dari Demak.
Presiden Hayam Wuruk dan Wakil Presiden Gajah Mada selanjutnya tidak mapu membina keagungan negara Majapahit. Lambat laun kesatuan Nusantara itu pecah berantakan, akibat perebutan kekuasaan antara para ahli waris kerajaan dan rongrongan dari luar.
Semangat Nasional Majapahit yang dipupuk pada masa pemerintahan HW-GM, lambat laun menjadi lapuk. Kelapukan dari dalam dan perongrongan dari luar mengakibatkan runtuhnya kerajaan Majapahit. Perang Paregreg telah menjadi bukti motif perselingkuhan politik yang menyebabkan pertempuran partai putera mahkota dengan partai putera dari selir dan anak-anak tidak syah dari dayang-dayang kerajaan. Perselingkuhanpolitik itu tak bisa merubah apa-apa.
Para pemegang kekuasaan tidak mampu menerapkan perundang-undangan yang bernama agama. Kehidupan mewah akibat kesejahteraan yang diusahakan oleh patih Gajah Mada, telah membuat lemah semangat. Para pembesar dulu ahli dalam membina semangat nasional banyak mengejar kesenangan dan kemewahan.
Semangat lapuk berhadapan dengan semangat baru. Kondisi mental sosial rakyat Majapahit yang lapuk, prustasi, putus harapan dan lelah menonton adegan perselingkuhan politik negeri berhadapan dengan kondisi mental orang-orang demak yang masih segar bugar dan penuh semangat membangun negara baru, Negara Islam.
55. dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.
Bangkit VS bangkrut ???
Enam abad selanjutnya..................al-kisah sebuah negeri pengagum Majapahit tetapi tidak pernah belajar dari kehancurannya, hanya membusungkan dada atas kemajuannya, atas keunggulannya. Tuah Mpu Gandring telah menghantui para ahli waris Majapahit.
Tanda-tanda kebangkrutan semakin terasa meski telah mati rasa, telah terlihat meski sengaja buta. Mengapa kekuasaan menjadi rebutan, sementara tanggung jawab mengemban amanat penderitaan rakyat diabaikan. Ibu pertiwi yang bersuamikan Demokrasi telah membuahkan anak negeri saling berebut tahta singgasana negara. Pertarungan antara partai putera mahkota dengan partai keturunan Selir dan anak-anak selingkuhan dayang-dayang Istana telah membuahkan perang paregreg jilid ke ? yang tak berkesudahan. Sang adik dari selir berkata : ”berikan kesempatan kepada kami yang muda”, sementara sang kakak yang merasa putera mahkota, berkata : ”kami lebih berpengalaman dalam memimpin”...(ah poko namah lieur)
Mengapa rakyat sekarang menjadi penakut, menjadi pengecut, menjadi ragu-ragu, menjadi saling mencurigai, menjadi saling mencakar, menjadi saling curiga.
Kesombongan intelektual liberalisme menguasai sistem ekonomi yang dipilh sekarang, akibatnya ekonomi liberal yang liar mencabik-cabikkekayaan bangsa yang terbagi-bagi hanya dikalangan elit politik dan pengusaha. Korupsi belum juga menujukan penurunan yang berarti, ketidakseimbangan dimana-mana, semangat separatisme masih bergelora seiring dengan antisipasi otonomi daerah yang miskin persiapan.
Akibatnya dosa besar bernama korupsi menjadi budaya, sementara sinergi kekuasaandengan swasta kembali melahirkan jaring kolusi yang sangat erat. Meskipun rakyat mati terbenam lumpur, tidak akan lahir kepedulian sejati dalam ketulusan menolong sesama manusia Indonesia. Apa yang terjadi adalah.............ini perusahaanku, hartaku.........ini negriku, akulah pemimpin yang berpengaruh, mulai dari tingkatan manapun, bila ego kejahatan AKUnya itu tetap besar, kita akan terus menyaksikan kerusakan demi kerusakan.
Dimanakah slogan bersama kita bisa, poster indonesia bangkit. Kampanye politik harapan baru dengan pemimpin baru. Akankah barang yang sudah lapuk terpakai kembali?. Siapa yang mau mencoba mendaur ulang negara dengan rumus eformasi?
Majapahit tinggal kenangan mending kita menyongsong fajar baru yang terbit dari timur, harapan baru itu dunia baru yaitu dunia Islam. Indonesia bangkit tak akan didapat dari yang bangkrut tapi hanya dari kebangkitan Islamyang bernama al-Fatah. Jangan daur ulang negara lebih baik menggantinya dengan yang halal. Bismillah. Selamat datang para wali abad 21....
Assalmu ‘alaikum w.w.,